5 Mitos Virus Corona yang Bisa Picu Munculnya Gelombang Kedua
Epidemi virus Corona terus berjalan sesudah pertama-tama ada di akhir Desember 2019 kemarin. Sesudah kehadirannya, banyak tanda-tanda serta ketentuan yang sering diacuhkan serta justru jadi parah situasi dunia.

5 Mitos Virus Corona yang Bisa Picu Munculnya Gelombang Kedua

Posted on

Epidemi virus Corona terus berjalan sesudah pertama-tama ada di akhir Desember 2019 kemarin. Sesudah kehadirannya, banyak tanda-tanda serta ketentuan yang sering diacuhkan serta justru jadi parah situasi dunia.

Berikut 5 mitos mengenai virus Corona yang dapat bawa satu negara dirundung gelombang ke-2 epidemi ini.

1. Umur muda kebal COVID-19

Beberapa orang yakin virus Corona cuma mencelakakan beberapa orang yang telah berumur lanjut. Tapi, bulan kemarin satu rumah sakit di Sheffield memberikan laporan seorang bayi berumur 13 hari wafat sebab virus Corona, tanpa permasalahan kesehatan yang memicunya.

Ini menunjukkan beberapa orang yang berumur muda dapat juga terkena virus Corona. Serta di Inggris sampai sekarang ini telah ada 20 pasien di bawah umur 19 tahun yang wafat sebab virus Corona.

2. Saat krisis COVID-19 telah lewat

Berkurangnya jumlah kematian yang disampaikan di sejumlah negara mengasumsikan bila waktu genting atau beresiko dari virus ini sudah melalui. Ini dapat membuat beberapa orang berasa begitu yakin diri.

“Nyaris di tiap tempat mulai mengurangi pemantauannya serta menjaga jarak sosial mulai menyusut, di situlah epidemi dapat ada,” kata Anthony Costello, dari Independent SAGE.

3. Cuaca hangat dapat turunkan jumlah masalah

Cuaca serta temperatur yang hangat disebutkan dapat kurangi tingkat infeksi, sebab waktu ada di luar rumah beberapa orang dapat semakin gampang untuk jaga jarak. Disamping itu, elemen virus disebutkan dapat rusak waktu ada di bawah cahaya matahari.

Tetapi, Independent Scage dari SAGE memperjelas jika penebaran atau penyebaran virus waktu ada di luar rumah malah semakin gampang berlangsung.

4. Cuma dapat terjangkiti dari orang yang memiliki gejala

Sama seperti yang diketahui, virus Corona menyebar melalui droplet orang yang terkena waktu batuk, bicara, atau bersin. Tapi, virus ini dapat juga tahan lama pada beberapa permukaan sebagai tempat jatuhnya droplet itu serta dapat bertahan sampai beberapa waktu.

Tidak cuma dari orang yang memiliki gejala saja, orang tanpa ada tanda-tanda (OTG) dapat dibuktikan semakin dapat menyebarkan virus itu ke orang lain.

5. Pemakaian masker tidak efisien hindari penyebaran virus

Ada asumsi yang menjelaskan pemakaian masker perlu dilaksanakan waktu memakai angkutan umum saja. Tapi, bukti kuat menjelaskan pemakaian masker dengan cara luas dapat kurangi penebaran virus itu.

Hal tersebut sudah ditunjukkan oleh Jepang, yang memberikan laporan 20 ribu masalah baru tapi jumlah kematiannya kurang dari seribu. Sesaat di Amerika Serikat, jumlah masalah barunya capai tiga juta serta 130 ribu kematian.

Apa perbedaannya?

Di Jepang, budaya memakai masker kembali lagi dilaksanakan sesudah paling akhir diaplikasikan waktu pandemi flu Spanyol menempa pada tahun 1919. Sesaat di AS justru protes untuk melawan pemakaian masker.

Faktanya, masker dapat menahan penebaran droplet dari pihak lain waktu bicara, batuk, atau bersin.

“Memakai masker kain yang simpel malah dapat dengan cara relevan menahan penebaran droplet yang kemungkinan bawa virus Corona ke seseorang,” kata penulis di Prosiding National Academy of Sciences AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *